Medan, JaladriNews – Sejumlah wilayah di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) diguncang banjir bandang dan tanah longsor setelah hujan deras mengguyur kawasan Tapanuli dan sekitarnya selama dua hari berturut-turut, Senin (24/11) hingga Selasa (25/11). Bencana melanda sedikitnya enam kabupaten/kota, menyebabkan belasan orang meninggal dunia, ratusan rumah rusak, serta ribuan warga terpaksa mengungsi.
Data terkini yang dihimpun dari Polda Sumut, BNPB, dan BPBD menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi ini merupakan salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir di Sumatera Utara.
KORBAN JIWA BERTAMBAH, PULUHAN LUKA LUKA
Kabid Humas Polda Sumut Kombes Ferry Walintukan menyampaikan bahwa hingga Rabu (26/11), 10 warga dilaporkan meninggal dunia, tiga mengalami luka-luka, dan enam lainnya masih dalam pencarian.
“Bencana ini telah menyebabkan 10 warga meninggal dunia, 3 orang luka-luka, dan 6 lainnya masih dalam pencarian. Sebanyak 2.393 KK terdampak dan 445 warga terpaksa mengungsi,” ujar Ferry.
Sementara laporan BNPB mencatat bahwa di Tapanuli Selatan saja, bencana banjir dan longsor menyebabkan 8 korban jiwa, 58 warga luka-luka, dan lebih dari 2.851 warga mengungsi. Sebagian besar korban berasal dari wilayah yang berada di dekat aliran sungai serta kaki bukit yang mengalami pergerakan tanah.
ENAM WILAYAH TERDAMPAK BERAT
Bencana tercatat terjadi di:
- Tapanuli Selatan
- Tapanuli Utara
- Tapanuli Tengah
- Sibolga
- Mandailing Natal
- Nias
Polda Sumut merinci bahwa terdapat 20 kejadian bencana alam yang tersebar di enam kabupaten/kota tersebut, terdiri dari 12 tanah longsor, 7 banjir, dan 1 pohon tumbang.
Di Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng), 1.902 unit rumah terendam banjir yang melanda sembilan kecamatan, termasuk Pandan, Barus, Kolang, Badiri, dan Lumut.
Sebagian wilayah masih terisolasi karena akses jalan tertutup lumpur dan material longsor.
Di Tapanuli Utara (Taput), 50 rumah rusak dan dua jembatan putus akibat derasnya aliran banjir dan pergerakan tanah di beberapa titik.
Sementara di Kota Sibolga, banjir deras menghantam rumah warga, menyeret kendaraan, dan membawa material lumpur serta kayu besar. Setidaknya tiga rumah dan satu ruko mengalami kerusakan berat.
KERUGIAN INFRASTRUKTUR DAN EKONOMI
Selain korban jiwa, bencana ini menimbulkan kerugian signifikan berupa:
- Ratusan rumah rusak
- 2 jembatan putus
- Akses jalan antar-kabupaten terputus
- Gangguan distribusi bahan pokok dan BBM
- Puluhan hektare lahan pertanian terendam
BNPB mencatat bahwa kejadian ini menambah panjang daftar bencana banjir di Sumut pada 2025, yang telah mencapai 75 kejadian sepanjang tahun berjalan.
Respons Pemerintah dan Penanganan Darurat
BNPB bersama BPBD Sumut, TNI, Polri, dan pemerintah daerah telah mengerahkan tim untuk melakukan evakuasi, pendataan, dan distribusi bantuan logistik. Posko pengungsian juga telah dibuka di sejumlah kecamatan.
“BNPB terus memonitor situasi di wilayah Tapanuli Raya dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk percepatan penanganan darurat,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.
Saat ini, tim gabungan masih berupaya mencari korban hilang, mengevakuasi warga di wilayah terisolasi, serta membersihkan material longsor yang menutup jalan lintas.
PERINGATAN CUACA EKTREM MASIH BERLANJUT
BMKG dan BNPB mengimbau masyarakat tetap siaga mengingat potensi hujan dengan intensitas tinggi masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan. Faktor topografi yang berbukit, ditambah kondisi tanah yang labil, membuat risiko longsor susulan tetap tinggi.
CATATAN BENCANA TAHUNAN DI SUMATRA UTARA
Banjir dan longsor bukan peristiwa baru di Sumatera Utara. Dalam lima tahun terakhir, daerah seperti Deli Serdang, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, dan Nias berulang kali mengalami bencana serupa dengan korban jiwa yang terus berulang.
- 2025 : 75 kejadian banjir, 10 korban jiwa
- 2024 : 121 kejadian banjir, 12 korban jiwa
- 2021–2024 : Sejumlah kejadian besar di Deli Serdang, Padang Sidempuan, Mandailing Natal, dan Karo
Catatan tersebut menjadi alarm bagi pemerintah pusat dan daerah untuk memperkuat strategi mitigasi, termasuk rehabilitasi daerah aliran sungai, perbaikan tata ruang, dan peningkatan sistem peringatan dini.
Hingga berita ini diturunkan, proses evakuasi, pencarian korban, dan penyaluran bantuan masih berlangsung. Pemerintah meminta masyarakat di wilayah rawan untuk mengungsi sementara dan menghindari area bantaran sungai serta lereng bukit yang rentan longsor.
Redaksi akan terus memantau perkembangan terbaru terkait bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara.









